Tunduk saat Menanjak dan Tegak saat Turunan

Assalamualikum.

sumber gambar
sebelum melanjutkan catatan perjalanan saya ke 2. saya ingin membahas sedikit, apa yang saya dapatkan ketika merenung, berkontemplasi. di dinginya angin, curamnya jurang. jauhnya perjalanan, romantismenya danau hingga tinggi dan angkuhnya mahameru. beberapa kali ketika melakukan tanjakan, turunan, kami terjatuh, istirahat serta bangkit untuk kembali melakukan perjalanan. di sini saya sadar, ya inilah miniatur hidup. sebuah perjalanan untuk sebuah tujuan. sebuah perjalanan dengan berbagai interupsi jatuh bangun, berkelok-kelok, tanjakan dan turunan, sebentar istirahat dan meneruskan perjalanan hingga tujuan kami tercapai. 

sebuah filosofi dalam perjalanan  ini, mungkin dari kita sering menemui nya, tapi terlewat begitu saja, dan bagi saya, ini suatu yang luar biasa. :D

"Tunduk saat menanjak dan Tegak saat Turunan"



dalam perjalanan ketika melalui bukit maupun gunung, kita selalu menghadapi 2 kondisi yang saling berkaitan, yaitu menanjak atau menurun dengan kondisi curam atau landai. berkelok maupun tajam, berpasir, rumput atau tanah. kering ataupun basah. kondisi saling berkaitan tersebut menjelaskan, jumlah kejadian yang sama, jumlah langkah kaki yang sama dan seimbang, setelah kita naik dengan susah payah. maka akan ada turunan dengan cepat. ketika kita naik bukit maka di belakang bukit kita akan turun. sama dengan apa yang kita jalani dalam kehidupan ini. ada kalanya kita naik, atau ada kalanya kita turun dan jika kita amati, maka tanjakan dan turunan itu jumlahnya sama. seperti sebuah putaran roda atau putaran kehidupan.


sumber gambar
ketika kita menghadapi tanjakan maka posisi tubuh terbaik adalah dengan menyeimbangkan tubuh. dengan mencondongkan tubuh bagian atas ke depan. dengan demikian kita tidak akan jatuh akibat ketidak seimbangan tubuh. dalam hidup pun juga demikian, ada kalanya ketika kita merasa berada di atas, dengan rizki melimpah, kemudahan, ketenangan batin, kesuksesan yang mengantri di depan mendatangi kita. selayaknya hati kita tetap rendah, tetap seperti kita biasanya. tidak menjadikan kita menjadi seorang yang tinggi. karena perbedaan sikap akan mudah membuat kita terjatuh pada sifat yang sombong. dan di benci Allah SWT. 


sumber gambar


ketika kita menghadapi turunan, maka posisi tubuh terbaik adalah tegak. dengan menegakkan bahu sejajar dengan arah kita melangkah. ini juga merupakan cara menyeimbangkan diri dari jatuh. seperti ketika kita mendapatkan musibah, masalah, fitnah, kesempitan dalam hidup, maka tidak layaknya kita murung, merasa rendah diri. dengan perasaan murung menambah masalah sendiri seperti terjatuh tertimpa tangga,  seharusnya kita tetap sabar, istiqomah, serta berjiwa besar, menegakan badan, tersenyum dan pasti ada hikmahnya "karena sekali-kali Allah tidak akan pernah meninggalkan hambanya" seperti perkataan ibunda ismail menggendong putranya ketika di tinggal sendiri oleh Nabi Ibrahim AS di lembah tandus dan tidak ada pepohonan di sekitar. keyakinan untuk bangkit jauh lebih baik daripada terus memikirkan masalah itu. biarlah permasalahan ini berjalan sesuai sunnatullah. sesuai kaidah roda kehidupan, maka sebentar lagi dan sedikit belokan lagi roda kehidupan mulai berbalik. :D


maka kata yang filosofis ini selalu ada dimanapun kita hidup, dari buaian hingga liang lahat. tetap optimis dalam hidup dan memahami bahwa hidup ini adalah bekal untuk nanti :D



obrolan terkait :

11 comments:

  1. kereeen !!
    suka.. pake banget "Tunduk saat menanjak dan Tegak saat Turunan"

    ReplyDelete
  2. Memang benar sekali.. namun aku tidaak habis fikir, kenapa aku tidak bisa.. membiarkan masalah berlalu dan selalu memulai usaha yang baru untuk keluar dari masalah itu.. masih saja keingetan terus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. teringat sih semua pasti sering, tapi jangan sampai ingatan kegagalan itu membuat kita tidak maju. (mengingatkan pribadi :D )

      Delete
  3. nice...saat sikap saat berada tanjakan dan turunan memang bisa merepresentasikan sikap kita saat menghadapi tanjakan dan turunan dalam hidup.
    dulu saya sempat diberitahu kalau saat melewati turunan sebaiknya membaca Subhanallah dan saat melewati tanjakan membaca Allahuakbar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, kata ust salim Allahuakbar di pakai ketika kita naik, mengingatkan kita kalau walau kita naik, Allah tetap Maha Besar, menjaga dari rasa sombong

      dan ketika turun (konotasi buruk) maka mengucapkan " subhanallah ", karena Allah Maha Suci dari hal hal yang demikian. wallahualam

      Delete
  4. Sejatinya dalam kondisi apapun, manusia itu wajib bersyukur. Sebab, selalu ada percik hikmah dibalik lakon duka maupun suka. Dan jika kita tetap Istikomah, nisacaya Tuhan akan memberikan yang terbaik. Terimaksih. Salam kenal bro:) follback juga my blog yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup bersyukur, dan sabar semacam koin yang satu sisi adalah syukur yang lain adalah sabar. selalu berdampingan. sudah saya follow

      Delete
  5. Aku suka quote itu. Tapi ada quote lain di Gn.Slamet yg aku baca dan bagus banget Mas hehe >> "Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but time" Tau ga quote ini? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu juga ada di semeru,, ha ha, gn slamet itu mana? jateng ya deket purbalingga?

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung d Blog saya. Silahkan tinggalkan komentar untuk respon/pertanyaan, maupun request untuk di masukan dalam blog ini. sebagai feedback untuk saya. Saya akan blogwalking juga di web kawan-kawan :)