Turun Gunung, Mengapa Harus Lebih Hati-Hati

بِسْـــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ

Dalam setiap penggiat alam, seringkali memberikan pemahaman bahwa selalu waspada dan berhati hati kala naik gunung. Ungkapan itu memang benar adanya. Semua buku-buku, referensi, dengar dari orang dan info yang masuk lainya memberikan gambaran bahwa para pendaki selalu mencurahkan segenap kemampuanya dalam Naik Gunung. 

Tantangan mendaki gunung adalah terjadinya hipoksia, yaitu ketika tubuh terlambat beradaptasi dengan ketinggian, atmosfer, suhu udara yang berganti dengan cepat sejalan dengan kita terus melangkah kaki naik gunung. Otak kita tidak terbiasa dengan perubahan tekanan udara yang turun dan dan berkurangnya oksigen, sehingga dapat memunculkan sakit kepala, mata sayu, lambatnya respon, sedikit lemas. maka hal terbaik adalah adaptasi, dengan beristirahat beberapa waktu untuk meregangkan dan melatih tubuh merespon perubahan alam yang terjadi. Jika dipaksa akan lebih berbahaya hingga meninggal. 

Lantas bagaimana dengan turun gunung, apakah lebih berbahaya. 



Analogi turun gunung adalah seperti diamnya sebuah danau yang didalamnya penuh dengan buaya. atau bagusnya sebuah bunga yang dapat memangsa hewan kecil ketika terperangkap di dalamnya. 



Saya sadar setelah pernah melakukan kesalahan bahwa tidak memberikan perhatian lebih ketika saya turun gunung. Saya tidak ingin mengulanginya dan ingin berbagi pengalaman yang tidak menyenangkan ini, terlebih beberapa waktu lalu, kita mendapatkan berita duka dari beberapa pendaki terjatuh. Ada anggapan bagi para penggiat alam pemula bahwa naik gunung adalah hal yang paling klimaks dalam rentetan perjalanan dari awal hingga akhir. Ketika sampai di puncak, maka telah menyelesaikan sebuah tantangan besar yaitu Pendakian. lalu Turun dengan santai tanpa ada perhatian dan kehati-hatian sehingga dapat menyebabkan kita hilang dari track. 

sedikit cerita pada waktu pertama kali naik gunung, kalau tidak salah di arjuno. ketika perjalanan pulang, saya menyadari keinginan besar untuk segera menyelesaikan, toh puncak sudah saya gapai. saya banyak sekali potong kompas dan tidak mengikuti track yang sudah disediakan. kemampuan sederhana tanpa bekal, dan ego tinggi membuat saya terperosok sedalam kurang lebih 3 meter, kaki saya terkilir. jatuh agak dalam dan tangan saya terluka. Hal pertama yang saya fikir adalah kembali ke jalur di mana saya memulai memotong kompas. berbagai cara dilakukan dengan membebat kaki yang terkilir dan menaiki tebing, memutar belum menemukan cara untuk kembali, pekatnya vegetasi, dinginya seakan sampai ke tulang, dan kabut yang mengendap mulai turun membuat saya berpikir, ini tempat yang tidak aman untuk bermalam, saya harus kembali. tengah harian saya berkutat untuk melakukan sesuatu untuk kembali. tangan saya mulai bergetar dan ngantuk luar biasa. saya sadar, ini adalah gejala hipotermia.  alhamdulillah ada regu pramuka yang juga tersesat mungkin mendengar teriakan minta tolong. dan menyelamatkan saya untuk menaikan di lokasi tempat saya jatuh dan kembali ke track. sungguh pengalaman yang membuat saya tidak ingin lagi mencoba potong kompas tanpa pengetahuan jalur pendakian. 

Menurut data pembunuh utama para pendaki, bukan terpeleset di jurang, tergantung di tebing, terkaman binatang buas, atau gas beracun, dan lain lain. Pembunuh utama para pendaki adalah hypotermia. Sebuah kondisi dimana mekanisme tubuh tidak mampu menyeimbangkan suhu dalam tubuh terhadap lingkungan sekitar yang cenderung menurun. ambang batas normal suhu tubuh adalah 35 derajat C. dan biasanya tubuh akan merespon melalui otot untuk mengigil karena suhu sekitar. ketika ambang batas terlewati dan otot tidak dapat mengigil, kita akan mengalami kantuk luarbiasa. dan itu pertanda ajal sudah sangat dekat. 

Bagaimana ini bisa terjadi ?. Seperti pengalaman saya. Umumnya diawali dengan tersesat. yaitu pada saat turun gunung. bukan ketika naik gunung. karena kita telah menyepelekan turun gunung. ingin segera sampai di pos pertama, pulang kerumah, uplod foto. hmm.. 

Biasanya kronologis nya adalah, ketika pendaki keluar jalur, yang mulanya punggungan, berbelok masuk ke lembah, baik sengaja maupun tidak. akibat tidak siaga, mendengar suara air mengalir, seakan suara manusia ramai. ataupun ingin mengisi air perbekalan yang habis kita bawa. Tanpa makan orang bisa bertahan 3 minggu. akan tetapi tanpa minum orang hanya bertahan 3 hari saja. akibat dehidrasi, kekurangan cairan di otak dan seluruh tubuh. 

Mengapa harus Punggungan dan Menghindari Lembah

Dahulu pemahaman saya. Lembah adalah surganya para pendaki, dengan air yang melimpah, ilalang yang tidak rapat dan jika kita mengikutinya akan tiba di suatu desa yang dekat. dan pandangan kita bisa luas. 

ingat kah lagu anak-anak ini :
"mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman sepetualang."



tidak sepenuhnya benar dan lebih banyak sesatnya. kecuali lembah itu memang merupakan pos pendakian. karena memang di lembah air berlimpah, pandangan kita luas. bagaimana jika tersesat sendirian di lembah? that worst case to kill.

fakta di lapangan adalah, lembah yang bersungai, cenderung tergerus akibat aliran di sisinya. menyisakan tebing curam, jebakan alam yang alami. bisa turun akan tetapi susah untuk naik. aliran air yang di teruskan akan bertemu dengan air terjun yang kondisinya licin dan siap menjatuhkan kita. vegetasi di lembah memiliki kelembapan yang tinggi. membuat basah pakaian. Lembah menjadi tempat berkumpulnya kabut, dan hembusan kuat angin gunung yang di belokan tebing dan gunung berkumpul juga di lembah, membuat suhu di sekitar lembah menurun drastis. jika lembah memiliki danau dapat menurunkan suhu lebih rendah lagi. lembah gunung berapi sebagai tempat yang pas bagi gas-gas beracun CO, karena massa nya lebih berat dari pada oksigen. dari lembah dapat mengakibatkan suhu tubuh menurun, pakaian basah, susah menghangatkan tubuh. dan tebing tinggi curam dan berlumut. seperti pengalaman saya sebelumnya. 


Saat ini, semua telah sepakat, naik dan gunung harus melewati punggungan. Jangan pernah sekali masuk ke lembah., jika tidak ingin dikenai resiko musibah fatal. Namun hal ini akan berdampak pada seluruh kemampuan perencanaan, persiapan, pelaksanaan dilapangan sebagai berikut.

1. Berjalan dipunggungan , 
Caranya lihat kiri dan kanan. Jika sebelah kiri / kanan gelap, maka anda berjalan dilereng menuju lembah. Jika kedua sisi gelap, artinya anda sudah didalam lembah. Jika kedua sisi terang artinya anda aman dan tetap dipunggungan. Saat dilereng, bisa saja ada sejenis paku yang merambat ( paku andam ). Tertutup humus sehingga nampak seperti tanah, tapi saat diinjak anda bisa terjeblos pada jurang dalam dibawahnya.

2. Tetap dipunggungan .
Jika terjadi sesuatu, tetap mengambil posisi dipunggungan. Team SAR manapun akan memulai penyisiran dari punggungan, sebagai string-line baku. Keberadaan anda disana, memudahkan anda untuk segera ditemukan. Selain itu, punggungan akan lebih memudahkan untuk melakukan komunikasi.

3. Hemat Air ….
Ingat, aliran air hanya ada dilembah, dan jarang ditemukan di punggungan. Akibatnya anda harus membawa perbekalan air yang cukup. Setidaknya 1/3 dari berat ransel anda adalah air. Yaitu untuk minum dan masak. Kalau kebetulan menemukan genangan air, segera penuhi kembali jarigen air yang anda bawa, sehingga selalu 1/3 berat ransel adalah air. Jangan pernah tergoda dengan ringannya ransel, akibat air berkurang.

4. Air selama berjalan….
Selama berjalan, usahakan agar tidak banyak meminum air di velples jika tak perlu. Khawatir tak mampu menahan diri, untuk meminum kebanyakan, yang bisa membuat anda justru sulit bergerak. Sebagai pengganti, cari air di lapangan. Bisa dari oyot pohon, batang pisang, kentang tanah, lumut, dll.

5. Dll

Yang paling berbahaya adalah sebuah pemikiran.
Saat puncak gunung di gapai, maka tantangan terberat lewat sudah, sekarang tinggal pulang dengan santai. Biar ransel ringan, lalu makanan dihabiskan, cadangan air minum terbuang-buang. 

maka siagakan diri kita baik naik gunung maupun turun gunung. karena kita tidak pernah dapat menaklukan alam.


Tulisan ini di sarikan dari tulisan kang Yat lessie  seorang pembimbing dan guru bagi saya dengan penambahan pengalaman dan tulisan 


Sumber gambar :
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.topik.my.id/wp-content/uploads/2014/10/turun-dari-gunung-prau.jpg&imgrefurl=http://www.topik.my.id/laporan-kegiatan/catatan/topik-mendaki-gunung-prau-dieng-jawa-tengah/&h=2304&w=3456&tbnid=cVwhqzLckNbz_M:&docid=CcniOv9yn4-KDM&ei=oBvhVaKRKNK7uATHi4HgBQ&tbm=isch&ved=0CAkQMygGMAY4ZGoVChMIouHA_qHNxwIV0h2OCh3HRQBc

No comments

Terima kasih sudah berkunjung d Blog saya. Silahkan tinggalkan komentar untuk respon/pertanyaan, maupun request untuk di masukan dalam blog ini. sebagai feedback untuk saya. Saya akan blogwalking juga di web kawan-kawan :)