Sekolah adalah Tempat Dimana Kami Belajar dari Kesalahan, Inspirasiku dari Kelas Inspirasi Karawang

بِسْـــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ



Parameter mudah melihat keberhasilan negara adalah pembangunan infrastruktur. Itulah kenapa banyak yang   befikir untuk membangun bangsa adalah dengan membangun bangunan. tidak salah tapi menurutku bukanlah yang utama. ambilah contoh pembangunan infrastruktur di Jepang yang pesat dan modern tapi juga sejalan dgn angka bunuh diri dan angka kematian lebih tinggi dari pada kelahiran karena menganggap berumah tangga dan mempunyai anak adalah merepotkan, bisnis merusak moral apa lagi.

menurut survey pribadi yang kami lakukan dgn anak2, bahwa mereka tertekan dengan pelajaran, setiap kami datang di tanyakan pelajaran terus dan terus. Mungkin ini salah satu hal perubahan arah sekolah sudah bukan lagi tempat menuntut ilmu namun sudah menjadi ajang berkompetisi. Siapa yang memenangkan kompetisi dialah yang selamat di kehidupan, ujung-ujungnya sekolah untuk mencari duit. 

Kamu sekolah yang pinter nak supaya bisa sukses kayak si anu dan si itu. 

kamu sekolah yang rajin supaya bisa jadi PNS. 

Awal mula masuk di kelas kami mencoba membiasakan berdoa, sebagai bekal bahwa ibadah lebih utama, dan selanjutnya, barulah materi yang ingin kami sampaikan.

Disini kami relawan mencoba membenahi. bahwa mencari ilmu itu penting tp yang lebih penting adalah meniatkan mencari ilmu sebagai ibadah kepada Allah dan menjadi pemakmur bumi dengan cara baik kepada orang tua, guru, dan teman2 sekolah dan lingkungan. 

Ada anak yang menangis dan terdiam terus kalau ditanya. diajak bercanda tidak mau, diajak main pun demikian. Dari keterangan teman-temanya sianak pemalu tersebut memang seperti itu, menangis setiap hari. Belakangan kami tahu si anak tersebut belum bisa menulis. padahal sudah di kelas 5, dan lebih sedih lagi dia diseleksia. kami bagikan kartu pos cita2 dan dia menangis. karena malu,  pantas saja menulis polisi seperti qoli2i. terbalik2. Malu karena kompetisi sekolah selalu kalah, kompetisi menulis selalu terbelakang.

Baiklah kami menarik kartu pos tersebut dan mencoba mengajak bermain yang lain, kami membuat simulasi membangun bangunan dari kertas, awalnya mereka berebut berkompetisi untuk mendapatkan bahan kertas terbanyak. namun kami relawan memberikan pengertian. kalau mau bikin sendiri-sendiri jadinya gedungnya tidak akan kuat, gimana caranya biar bikin gedung tinggi dan kuat? mulailah mereka berpikir caranya. 

Si anak yg malu dan selalu menangis membuat terobosan mengajak kerjasama. memberikan bahan gelas kertasnya ke teman lainya, cara tersebut di ikuti teman-temanya untuk bahu membahu membuat gedung yg tinggi. alhamdulillah dengan memberikan test tiupan angin dan goyangan gempa tetap kuat bertahan. Berhasil. Mereka senang bukan main. 

10 menit sebelum waktu habis, kami mengajak untuk menulis cita2 di kartu pos dan di pohon cita-cita. Kartupos tersebut untuk dibawa pulang kerumah dan sebagai tanda kenang-kenangan agar mungkin suatu saat mereka tersenyum dengan cita-citanya saat sudah beranjak dewasa, satu lagi adalah catatan kecil berbentuk kupu-kupu yang nanti akan ditempelkan di pohon cita-cita di depan kelas bersama teman-temanya. 

Tetiba, teman lain-nya ikut membantu teman yg diseleksia tersebut. dan menempelkanya di pohon cita2. 

Masyallah. akhirnya teman-teman-nya membantu dgn pengertian. kami tutup dengan cerita bahagia. Biarlah anak-anak berkesimpulan sendiri. pelajaran apa yg kami berikan tidak lagi penting.


Sdn Cigunungsari 2 Karawang. kelas inspirasi.

10 comments:

  1. Ya Ampun, kasihan ya anak yang disleksia itu. Saya habis nonton film tentang anak berbakat yang mengidap disleksia dan alhasil saya nangis sepanjang film sampai mata bengkak dan perih.
    Semua anak itu spesial, tak peduli apapun bentuk kekurangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, setidaknya mereka tidak boleh di bedakan.

      Delete
  2. Masya Allah, mengharukan sekali yaa...ngebayanginnya pengen nangis :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. membuat kita jadi lebih bersyukur se pahit apapun yang kita alami.

      Delete
  3. Wuaaaaaaah kereeeen
    Ikut KI itu emang seruuuuuu

    ayok ikut Kelas inspirasi Lumajang
    pendaftaran terakhir akhir bulan ini, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumajang ya.. belum sampai sana mbak, insyallah yang deket2 surabaya dulu

      Delete
  4. Ya ampun :' terharu banget :' sudah pada peduli sesama ya mereka. Bangga banget saya :'

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung d Blog saya. Silahkan tinggalkan komentar untuk respon/pertanyaan, maupun request untuk di masukan dalam blog ini. sebagai feedback untuk saya. Saya akan blogwalking juga di web kawan-kawan :)